..:: Al-Quran:::..

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam... kerana diammu itu adalah salah satu bukti cintamu padanya...kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mahu merosak kesucian dan penjagaan hatinya.

-al-'Asyiq


قُلْ سِيْرُوا فِى الَأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَأَ الخَلْقَ



" Tanda Kita kasih Kepada al-Qur'an Ialah Dengan Kita Membacanya, Beramal Dengannya, Memahami Tuntutan, Menjunjung Suruhan dan Meninggalkan Larangan-Nya.."

"...Sesungguhnya Allah Tidak Melihat Kepada Jasad dan Tidak Juga Kepada Rupa Paras Kamu, Tetapi Allah Taala Memandang Kepada Hati Kamu.." - Hadis Rasulullah SAW.

::..Baca dan Cintai al-Quran & Buku Demi RedhaNya Supaya Tergolong Dalam Orang-Orang Yang Berfikir..::

`::: HaDis :::


click to create your glitter text

Rasulullah SAW bersabda: " Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memberi kemudahan baginya menuju syurga.."

~ Mutiara kata al Hikmah ~

" Allah menurunkan rahmat ilmu melalui lapar dan berpuasa. Sebaliknya kejahilan terjadi akibat perut yang sentiasa kenyang."

Tuesday, October 13, 2026

Sibuk Mengatur Yang Bukan Urusan Kita

Kata Ibn ‘Athaillah, salah satu sumber kegelisahan adalah ketika kamu terlalu sibuk mengatur sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasamu. Kamu ingin menentukan hasil, padahal tugasmu hanya berikhtiar.


Ada kelelahan yang tidak berasal dari banyaknya pekerjaan. Ia berasal dari keinginan untuk memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita sudah berusaha, tetapi masih terus memikirkan hasilnya. Sudah mengirim lamaran, tetapi setiap hari gelisah memikirkan apakah akan diterima. Sudah berbicara dengan seseorang, tetapi terus memikirkan bagaimana agar ia memahami kita. Sudah berdoa, tetapi masih sibuk menentukan kapan jawaban itu harus datang. Sudah melakukan yang terbaik, tetapi hati tetap tidak tenang karena kita ingin memastikan bahwa hasil akhirnya sesuai dengan rencana.


Di sinilah gagasan Ibn ‘Athaillah tentang tadbīr menjadi sangat dalam. Dalam Al-Hikam, Ibn ‘Athaillah mengingatkan agar seorang hamba tidak terlalu sibuk mengatur dirinya sendiri seolah-olah ia mengetahui apa yang terbaik bagi hidupnya. Salah satu hikmah awalnya berbicara tentang keinginan untuk meninggalkan tadbīr dan ikhtiyār pribadi, yakni dorongan untuk mengatur dan memilih segala sesuatu bagi diri sendiri, ketika Allah telah menetapkan pengaturan bagi hamba-Nya.


Ini bukan ajakan untuk menjadi pasif. Bukan berarti manusia tidak perlu membuat rencana. Tidak perlu bekerja. Tidak perlu mengambil keputusan. Justru ikhtiar tetap bagian dari kehidupan seorang hamba. Yang perlu dilepaskan adalah keinginan untuk menguasai hasil. Ada sesuatu yang berada dalam wilayah kita dan ada sesuatu yang tidak. Kita bisa memilih untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetapi kita tidak bisa memaksa orang menerima hasil kerja kita.


Kita bisa menjaga sebuah hubungan dengan sebaik mungkin. Tetapi kita tidak bisa memaksa hati orang lain untuk tetap mencintai kita. Kita bisa menjaga kesehatan. Tetapi kita tidak bisa mengendalikan seluruh keadaan tubuh kita. Kita bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Tetapi kita tidak bisa menentukan bentuk dan waktu jawaban Allah. Masalahnya, manusia sering mencampuradukkan keduanya.


Kita melakukan bagian yang sebenarnya menjadi tugas kita, kemudian mengambil beban yang bukan lagi bagian kita. Kita sudah berusaha, tetapi masih ingin mengendalikan hasil. Kita sudah menyerahkan keputusan, tetapi tetap ingin memastikan semua konsekuensinya. Akhirnya tubuh berada di sini, tetapi pikiran terus hidup di masa depan.


“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau dia pergi?”

“Bagaimana kalau rencana ini tidak berhasil?”

“Bagaimana kalau yang kuharapkan tidak terjadi?”


Pertanyaan semacam itu bisa berputar tanpa akhir karena kita sedang berusaha memperoleh kepastian dari sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan kepada manusia.


Ibn ‘Athaillah mengajak manusia untuk melihat batas kemampuan dirinya. Kamu diperintahkan untuk berusaha, tetapi tidak diperintahkan untuk menguasai takdir. Kamu diperintahkan untuk berdoa, tetapi tidak diberi tugas menentukan bagaimana Allah harus menjawab. Kamu diperintahkan untuk memilih dengan pertimbangan yang baik, tetapi tidak diberi kemampuan mengetahui seluruh akibat dari pilihanmu. Di situlah tawakkal menjadi masuk akal. Tawakkal bukan berhenti berusaha. Tawakkal adalah berusaha tanpa menjadikan hasil sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kehendakmu. Karena ketika hasil menjadi sesuatu yang wajib sesuai dengan rencana kita, kegagalan kecil terasa seperti kehancuran besar.


Tetapi ketika kita memahami bahwa tugas kita adalah ikhtiar, sementara hasil berada dalam ilmu dan kehendak Allah, hati memiliki ruang untuk bernapas. Kita masih boleh kecewa. Masih boleh menangis. Masih boleh berharap. Tetapi kita tidak perlu menghancurkan diri sendiri hanya karena kehidupan memilih jalan yang berbeda dari rencana kita. 


Mungkin inilah salah satu bentuk kedewasaan spiritual: mampu berkata, “Aku akan melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabku. Untuk bagian yang bukan berada dalam kuasaku, aku akan belajar menyerahkannya kepada Allah.” Sebab sering kali yang membuat kita lelah bukan perjalanan hidup itu sendiri. Kita lelah karena ingin menjadi penguasa atas sesuatu yang sejak awal bukan milik kita. Dan mungkin ketenangan mulai tumbuh ketika kita akhirnya memahami satu batas sederhana. 


Ikhtiar adalah tugasku. Hasil bukan milikku untuk dipaksa.


Dalam Rindu Mu,

-Musafir Ilmu Ah~



Sumber sekunder: 

https://www.facebook.com/share/p/1C3irhZqfs/

No comments: