..:: Al-Quran:::..

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam... kerana diammu itu adalah salah satu bukti cintamu padanya...kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mahu merosak kesucian dan penjagaan hatinya.

-al-'Asyiq


قُلْ سِيْرُوا فِى الَأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَأَ الخَلْقَ



" Tanda Kita kasih Kepada al-Qur'an Ialah Dengan Kita Membacanya, Beramal Dengannya, Memahami Tuntutan, Menjunjung Suruhan dan Meninggalkan Larangan-Nya.."

"...Sesungguhnya Allah Tidak Melihat Kepada Jasad dan Tidak Juga Kepada Rupa Paras Kamu, Tetapi Allah Taala Memandang Kepada Hati Kamu.." - Hadis Rasulullah SAW.

::..Baca dan Cintai al-Quran & Buku Demi RedhaNya Supaya Tergolong Dalam Orang-Orang Yang Berfikir..::

`::: HaDis :::


click to create your glitter text

Rasulullah SAW bersabda: " Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memberi kemudahan baginya menuju syurga.."

~ Mutiara kata al Hikmah ~

" Allah menurunkan rahmat ilmu melalui lapar dan berpuasa. Sebaliknya kejahilan terjadi akibat perut yang sentiasa kenyang."

Sunday, January 19, 2014

PENGANTAR SYEKH FADHIL UNTUK TAFSIR AL-JAILANI


PENGANTAR SYEIKH FADHIL UNTUK TAFSIR AL-JAILANI (1)

Dalam mukaddimah Tafsir Al-Jailani, Syekh Dr. Muhammad Fadhil mengatakan: “Bagi para ilmuwan dan peneliti, urgensi dari penerbitan berbagai karya tulis Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani terletak pada keberhasilan sang Syaikh dalam menampilkan tasawuf sesungguhnya yang bersih dan mengikuti al-Qur`an dan Sunnah. Dalam tasawufnya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sama sekali tidak keluar dari manhaj al-Qur`an dan Sunnah. Itulah sebabnya jumhur ulama bersepakat atas kesalehan dan kebenaran manhaj sang Syaikh. Mereka selalu mengakui kebenaran pelbagai pernyataan sang Syaikh, bahkan mereka menyebut nama sang Syaikh dengan gelar: as-Syaikh al-Abid az-Zahid, al-'Arif billâh, as-Sayyid asy-Syarif, asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Radhiyallâhu 'Anhu.

Dari sini saya menemukan keharusan untuk melakukan penelitian terhadap karya-karya tulisan sang Syaikh demi menghilangkan perselisihan yang terjadi di tengah umat Islam masa kini. Karena berbagai pernyataan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani selalu penuh dengan hikmah, nasehat yang baik, dan perdebatan dengan cara yang baik.

Saya telah mengumpulkan sekian banyak catatan tentang pernyataan, suluk, dan perbuatan sang Syaikh demi menyerukan persatuan dan menghilangkan perselisihan di tengah umat Islam, sembari memperkenalkan mereka kepada tasawuf yang benar. Saya berniat untuk mempublikasikan catatan-catatan itu melalui buku saya yang akan datang yang berjudul: Nahr al-Qâdiriyyah.


Selain itu saya juga telah mengumpulkan beberapa pandangan para ulama baik yang dulu maupun yang sekarang, tentang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, yang akan saya publikasikan melalui sebuah buku lain yang berjudul "Ârâ` al-'Ulamâ` fî Haqq asy- Syaikh Abdul Qâdir al-Jailâniy". Saya juga telah memaparkan biografi sang Syaikh secara lengkap dalam pendahuluan buku yang berjudul "al-Futuwwah fî Kaifiyyah Akhdz al-'Ahd wa al-Bai'ah".

Kami sengaja menyebut "Karya Syaikh Al-Jailani" dan tidak menggunakan istilah "Tafsir Syaikh Al-Jailani", yang akan dijelaskan pada bagian mendatang. Dalam karyanya ini, Syaikh Al-Jailani menyusun surah dan ayat-ayat al-Qur`an secara berurut dengan menghubungkan satu dengan yang lain. Di setiap surah, ia membuat mukadimah yang disebut dengan istilah "Pendahuluan Surah" (fâtihah as-sûrah), lalu menutupnya dengan bagian penutup yang disebut dengan istilah "Penutup Surah" (khâtimah as-sûrah). Di bagian ini Syaikh Al-Jailani menempatkan ringkasan dari kandungan isi surah yang bersangkutan, meski biasanya Syaikh Al-Jailani mengisi bagian penutup ini dengan doa untuk seluruh umat Islam dan orang-orang yang hadir dalam majelis di saat dulu ia menyampaikan tafsir ini.

Hal lain yang terkenal dari Syaikh Al-Jailani adalah kedudukannya sebagai Imam di madrasah yang ia dirikan dan ia bina hingga memberi hasil yang baik. Syaikh Al-Jailani adalah salah satu tokoh awal yang menggugah para pemuda yang selalu melakukan dosa di masa itu. Ia mengembuskan semangat untuk kembali kepada Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dengan apa yang dilakukannya itu, Syaikh Al-Jailani telah menjadi pembuka jalan bagi kemunculan Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah. Dengan semangat yang ditumbuhkan oleh Syaikh Al-Jailani pada generasi masa itu, di tangan Shalahuddin al-Ayyubiy pasukan Islam berhasil menaklukkan bangsa Eropa serta membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman mereka. Semua prestasi itu hanya dapat terwujud dengan membebaskan pemikiran dan ruh generasi muda dari segala bentuk kerusakan material, moral, dan intelektual, melalui pengaruh kuat dari semangat yang muncul di masa Syaikh Al-Jailani.

Bukankah semua ini hanya dapat terwujud dengan kembali kepada nilai-nilai Islam yang berasal dari Kitabullah melalui pembaruan keimanan, penguatan ketakwaaan, dan hubungan dengan Allah s.w.t.?!
Sungguh, Syaikh Al-Jailani dengan melakukan semua itu dalam berbagai aktivitas pengajaran, pengarahan, dan karya-karya tulisnya.”


PENGANTAR SYEKH FADHIL UNTUK TAFSIR AL-JAILANI (2)

Dalam mukaddimah Tafsir Al-Jailani, Syekh Dr. Muhammad Fadhil mengatakan: “Dalam kitab ini, Syaikh Al-Jailani tidak sekedar menafsirkan al-Qur`an dengan pola tafsir yang semata-mata mengandalkan ilmu dan pemahaman seperti yang lazim terdapat dalam pelbagai kitab tafsir lain, tetapi tafsir ini lebih banyak bertumpu pada pemaparan berbagai sugesti yang menghidupkan ruh serta dapat menumbuhkan ketakwaan di satu sisi, dan di sisi lain mampu mengikat murid dengan gurunya, sehingga sang guru dapat terus meningkatkan kualitas murid hingga mencapai derajat setinggi mungkin.

Itulah sebabnya karya tulis Syaikh Al-Jailani ini disebut "al-Fawâtih al-Ilâhiyyah wa al-Mafâtih al-Ghaibiyyah al-Muwadhdhihah li-l-Kalim al-Qur`âniyyah wa al-Hikam al-Furqâniyyah". Inilah sebuah karya otentik yang menjadi bentuk sumbangsih nyata dari seorang 'Alim Rabbaniy dan Quthb Rûhâniy, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Ridhwânullâh 'Alaih.

Lewat karya ini, Syaikh Al-Jailani ingin meletakkan kita di jantung karyanya yang sedang Anda pegang ini. Ia tidak menamakan kitab ini dengan istilah "penafsiran al-Qur`an", melainkan menyebutnya "al-Fawâtih al-Ilâhiyyah wa al-Mafâtih al-Ghaibiyyah al-Muwadhdhihah li-l-Kalim al-Qur`âniyyah wa al-Hikam al-Furqâniyyah". Maksudnya, dalam kitab ini Syaikh Al-Jailani berbicara tentang pelbagai pengaruh inspiratif yang berasal dari al-Qur`an terhadap dirinya yang nota bene adalah seorang ahli ibadah dan zuhud, yang selalu berupaya mendaki tangga kedekatan menuju Allah s.w.t.. Padahal kita tahu bahwa al-Qur`an memiliki sekian banyak inspirasi dan isyarat yang beragam bagi masing-masing orang, sesuai dengan kualitas mujahadah dan jihad yang dilakukannya untuk mencari keridhaan Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-Ankabut: 69). Dalam ayat ini Allah tidak menggunakan kata "sabîl" dalam bentuk singular, melainkan menggunakan kata "subul" dalam bentuk plural. Maksudnya, masing-masing orang akan menangkap inspirasi dan isyarat tertentu dari al-Qur`an. Sementara efek dan stimulasi al-Qur`an terhadap tiap-tiap orang akan berbeda sesuai dengan tingkat spiritual (marhalah) yang dicapainya dan dengan seluruh aspek kehidupan yang dijalaninya.

Di sinilah berbagai pendapat berbeda akan muncul, yang bahkan terkadang saling bertentangan. Ada pendapat yang dekat dengan pengertian tekstual ayat al-Qur`an, tapi ada pula yang jauh darinya. Sebab al-Qur`an itu sendiri adalah laksana samudera tak bertepi. Di dalamnya terkandung berbagai khazanah berharga yang tak ternilai harganya: ada yang dapat dengan mudah langsung ditemukan dan ditentukan—seperti kandungan mengenai hukum dan hudud yang berhubungan dengan kehidupan dan kemasyarakatan—, namun ada pula yang tidak mudah untuk ditemukan dan ditentukan, sehingga hanya dapat diraih menggunakan ruh, cahaya, dan hidayah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya: "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan." (QS. al-An'am: 122); dan firman-Nya di ayat lain: "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. asy-Syura: 52).

Dengan kesadaran inilah maka Syaikh Al-Jailani kemudian menyatakan dalam mukadimah yang beliau tulis untuk para sahabatnya: "Saudara-saudaraku abqâkumullâh ta'âlâ, janganlah kalian mengecam saya atas apa yang saya lakukan; dan jangan pula kalian memaki saya disebabkan apa yang ingin saya capai..." Kemudian Syaikh Al-Jailani berkata: "yang saya harapkan dari saudara-saudara adalah agar kalian hanya melihat isi kitab ini menggunakan intuisi perenungan, bukan dengan logika pemikiran; menggunakan dzauq dan nurani, bukan menggunakan dalil dan argumentasi; serta menggunakan kasyf dan kejernihan, bukan mengandalkan kalkulasi ukuran-ukuran."

Rupanya Syaikh Al-Jailani ingin menjelaskan bahwa karyanya ini bukanlah tafsir seperti tafsir yang lain pada umumnya, melainkan adalah sebuah kompilasi inspirasi dan isyarat yang seiring dengan irama kehidupan, ruh, dan gerak yang muncul dari hati ahli ibadah yang selalu berhubungan dengan Allah azza wa jalla. Kesadaran inilah yang senantiasa berpadu baik dengan setiap gerak Syaikh Al-Jailani, maupun dengan diam hatinya yang selalu tenang bersama Allah. Karya tulis beliau ini menjadi manifestasi dari segenap perasaan, emosi, gerak, inspirasi, isyarat, dan curahan hati Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Itulah sebabnya, seyogianya setiap pembaca kitab ini dapat memahami semua ini sebelum menyelami samudera luas ini agar tidak tenggelam atau tersesat. Khususnya berkenaan dengan bagian-bagian yang terkesan mendukung paham Wihdatul Wujud, padahal Syaikh Al-Jailani sama sekali tidak memiliki hubungan dengan aliran filasafat ini. 

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa Syaikh Al-Jailani selalu menghidupkan Sunnah Rasulullah s.a.w.. Oleh sebab itu, jika di dalam tafsir ini terdapat pembahasan seputar Wihdatul Wujud atau yang semacam itu, maka sebenarnya itu adalah keterangan orang lain yang disusupkan ke dalam tulisan Syaikh Al-Jailani, karena Syaikh tidak pernah mengutip dari pendapat orang lain, kecuali hanya beberapa kali dari Sayyidina Ali r.a., Sayyidina Ibnu Abbas r.a., dan beberapa sahabat lain.

Dalam ayat-ayat tentang hukum (âyât al-ahkâm), Syaikh Al-Jailani menyebutkan secara singkat mengenai hukum fikih sambil terkadang menyampaikan peringatan tentang qiraat-nya. Berkenaan dengan masalah qiraat, Syaikh Al-Jailani tidak selalu mengikuti qiraat Imam Hafsh dan terkadang menggunakan beberapa jenis qiraat sekaligus tanpa menyebut sumbernya.”

--Syekh Dr. Muhammad Fadhil dalam pengantar pada Tafsir Al-Jailani


--Bagi yang ingin mempelajari lebih mendalam tentang makrifat dan hakikat dari Syekh Abdul Qadir Jailani, serta tafsir dari ayat-ayat Al-Quran dalam samudra tasawuf silahkan miliki Kitab Sirrul-Asrar terjemah KH Zezen ZA Bazul Asyhab (Rp 65.000) dan Tafsir Al-Jailani terjemah Tim Markaz Al-Jailani (2 jilid/6 Juz, hardcover, harga Rp 230.000). Belum termasuk ongkos kirim. Hubungi Ibu Ina, via SMS/WA: 08122476797. Bagi yang berada di Malaysia, silakan hubungi En. Alias Hashim 0192693677.


Diambil Dari Page : https://www.facebook.com/tasawufunderground

800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN


Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-25-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal tarekat/tasawuf terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah ini selama 800 tahun menghilang dan baru ditemukan secara utuh di Vatikan. Manuskrip yang berisis 30 Juz penuh ini tersimpan secara baik di perpustaan. 

Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang mengulas ayat-ayat Al-Quran. Kita seolah-olah mempelajari samudra tasawuf dari ayat ke ayat. Dan, alhamdulillah, Tafsir Al-Jailani, yang dalam bahasa Arab telah diterbitkan oleh Markaz Al-Jailani Turki (6 jilid), kini telah berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia/Melayu menjadi 12 Jilid. Hingga hari ini, Markaz Jailani Asia Tenggara baru mencetak 2 jilid pertama.

Para salik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura yang berbahasa Melayu bisa mempelajari makna-makna penting tasawuf yang diajarkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mudah.
Kami sangat berterima kasih dengan perjuangan penelitian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Dr Muhammad Fadhil dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip langka ini. Terutama yang berkaitan dengan Tafsir Al-Jailani. Kami terharu ketika mendengarkan langsung kisah pengkajian dan penelitiannya selama puluhan tahun.

Berikut adalah penuturan Syekh Fadhil dalam pembukaan kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya:
“Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtada bih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.
Setelah saya mendatangi Madinah Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu 'Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.

Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu 'Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.

Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.
Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.

Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insyaallah.

Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu 'anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang. Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..

Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan. 

Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: "Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy." 
Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: "Filsuf Islam", dan dalam Bahasa Arab: "Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn".

Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: "Sang Syaikh Radhiyallahu 'Anhu membahas tiga belas macam ilmu."
Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustaka
an di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan selama ini lebih fasih orang Katolik mempelajari karya-karya Syekh Abdul Qadir Jailani daripada kita yang setiap bulan ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir?
-------
Hari ini Syekh Dr, Muhammad Fadhil dan Syekh Rohimuddin Nawawi Al-Bantani melauncing penerbitan 2 jilid edisi terjemah Tafsir Al-Jailani di Dar Al-Hasani, Kelantan, Malaysia. Pada tanggal 2 Maret 2014, acara launcing di Istora Senayan dalam acara Islamic Book Fair (IBF).
--Bagi yang ingin mempelajari lebih mendalam tentang makrifat dan hakikat dari Syekh Abdul Qadir Jailani, serta tafsir dari ayat-ayat Al-Quran dalam samudra tasawuf silahkan miliki Kitab Sirrul-Asrar terjemah KH Zezen ZA Bazul Asyhab (Rp 65.000) dan Tafsir Al-Jailani terjemah Tim Markaz Al-Jailani (2 jilid/6 Juz, hardcover, harga Rp 230.000). Belum termasuk ongkos kirim. Hubungi Ibu Ina, via SMS/WA: 08122476797. Bagi yang berada di Malaysia, silakan hubungi En. Alias Hashim 0192693677.

Diambil dari Page : https://www.facebook.com/tasawufunderground

Saturday, January 18, 2014

HADIS QUDSI UNTUK KEDAMAIAN HATI




Allah SWT berfirman, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku. Barangsiapa yang tak rela dengan ketentuan-Ku, tidak sabar terhadap ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak puas dengan pemberian-Ku, maka hendaknya ia menyembah tuhan selain-Ku.

Barangsiapa yang sedih terhadap kehidupan dunianya, seolah-olah ia sedang murka kepada-Ku. Siapa yang mengeluh atas suatu musibah, berarti ia telah mengeluhkan-Ku.

Siapa yang mendatangi orang kaya, lalu ia merendahkan diri karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya. Siapa yang memukul wajahnya karena kematian seseorang, seolah-olah ia telah mengambil tembok untuk memerangi-Ku. Siapa yang mematahkan kayu di atas kubur, seolah-olah ia telah menghancurkah Ka'bah-Ku dengan tangannya. Siapa yang tak peduli darimana ia mendapat makanan, maka Allah juga tak peduli dari pintu mana ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam. Siapa yang tak bertambah agamanya, berarti ia merugi. Sedangakan orang yang merugi, mati adalah lebih baik baginya. Barangsiapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang tidak ia ketahui. Serta siapa yang panjang angan-angan, maka amalnya tidak akan ikhlas."

--Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa'adah

Diambil dari : https://www.facebook.com/tasawufunderground


JANGAN SOMBONG UNTUK MENGAKUI KELEMAHANMU!

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, "Berbahagialah orang yang mengakui nikmat-Nya di hadapan Allah SWT dan menyandarkan segala sesuatu kepada-Nya. Sementara itu, dia melepaskan dirinya, segala sebab dan kekuatannya. Orang berakal adalah orang yang tidak pernah menghitung-hitung amalnya kepada Allah dan tidak mengharap balasan dari-Nya dalam segala hal.

Sungguh celaka, jika engkau beribadah kepada Allah tanpa disertai ilmu, engkau bersikap zuhud tanpa ilmu, engkau mengambil dunia tanpa ilmu. Itulah sesungguhnya hijab dalam hijab, murka di dalam murka.

Engkau tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Engkau tak memisahkan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakanmu. Engkau juga tak mengenal siapa kawan, siapa musuh.




Semua itu akibat dari kebodohan dirimu terhadap hukum Allah. Sebab, engkau telah meninggalkan sikap berbakti kepada para guru, guru amal, dan guru ilmu, yang menunjukkanmu kepada Allah SWT. Berbicara jadi nomer satu, sementara beramal jadi nomer dua, padahal dengan beramal engkau mencapai Allah SWT."

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendoakan, "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu atas kebergantungan pada sebab-sebab dan tetap dalam kegilaan, hawa nafsu dan kebiasaan; Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan pada seluruh keadaan.
Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka." 

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani



Diambil dari : https://www.facebook.com/tasawufunderground

Friday, January 17, 2014

MARI MERAIH ANUGERAHNYA

[Para 'alim 'ulama mutaakhhirin]

"Allah menganugerahkanmu 3 kemuliaan: Dia membuatmu ingat kepada-Nya, jika bukan karena karunia-Nya, maka engkau tak pantas atas melimpahnya dzikir kepada-Nya dalam diri; Dia membuatmu diingat oleh-Nya, karena Dia menguatkan hubungan-Nya denganmu; dan Dia membuatmu diingat di sisi-Nya, maka Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu." 


--Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam


Anugerah Allah SWT dengan memberi kesempatan kita untuk berdzikir adalah nikmat yang luar biasa. Allah SWT berfirman, "Dialah yang memberimu rahmat dan karunia, sebagaimana kepada para Malaikat." Biasanya, kita memulai perjalanan batin dengan menanyakan sebab eksistensi ini, dan mengakhirinya dengan mengingat dan menyadari Sumber dari semua eksistensi.


Karunia berikutnya, Dia menempatkan kita dalam posisi penghambaan sehingga kita mengaku ketuhanan-Nya. Dan, karunia terbesar adalah Dia memilih dan kita dalam nur-Nya.





Thursday, January 16, 2014

5 langkah Agar Rumah Tangga kita menjadi Lebih indah



1. Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.


2. Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.


3. Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.

4. Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.

5. Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.





RINDU MUHAMMAD SAW

Diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang tsiqah bahwa ketika salah seorang shalih bermimpi bertemu Rasulullah, dimana dia adalah orang yang selalu rindu kepada Rasulullah saw, yang tidak pernah tidur kecuali setelah air matanya mengalir karena ingin berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia pun sering melihat Rasulullah di dalam mimpinya, lalu di dalam mimpi itu ketika di padang mahsyar ia melihat kumpulan manusia yang memenuhi padang mahsyar,

mereka saling tindih satu sama lain, yang masing-masing ada yang berubah wajahnya, ada yang berbau busuk dan lain sebagainya, kesemuanya dalam keadaan yang sangat bingung, ketika itu tiba-tiba barisan para malaikat melintas dan lewatlah rombongan sayyidina Muhammad saw bersama para nabi, syuhada’, para wali dan orang shalih lainnya.

maka orang tadi hanya melihat saja dari kejauhan dan tidak bisa mendekat kepada Rasulullah saw karena desakan para malaikat yang membatasi orang-orang yang mendekat, ketika barisan para malaikat itu melintas maka lewatlah nabi Muhammad saw, dan orang shalih itu tidak bisa mendekat apalagi berbicara kepada Rasulullah saw, ia pun pasrah, tidak memaksakan diri. lalu di dalam mimpi itu dia berkata kepada orang yang berada di sebelahnya:

"Jika kelak kamu bertemu dengan Rasulullah maka sampaikan salamku bahwa aku rindu kepadanya, dulu di masa hidupku di dunia aku selalu merindukan Rasulullah, jika aku masuk neraka sampaikan kepadanya bahwa aku telah berada di tempat yang layak untukku sebagai pendosa (yaitu neraka)”,

maka setelah ia berkata demikian barisan yang melintas tadi tiba-tiba berhenti karena Rasulullah berhenti, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berbalik dan berkata :

"wahai Fulan, aku tidak melupakan orang yang merindukanku"
lalu beliau membuka kedua tangannya kemudian orang itu berlari dan memeluk sang nabi Muhammad saw dan menciuminya"


Sumber : https://www.facebook.com/pages/SURAU-KECIL/559581344133255?fref=ts

Wednesday, January 15, 2014

BAHKAN, CACING PUN BERTASBIH!


Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Dawud a.s. duduk di pertapaannya sambil membaca kitab Zabur, tiba-tiba ia melihat seekor cacing berwarna merah di atas tanah. Ia pun bertanya di dalam hatinya, ‘Apa yang Allah kehendaki dengan cacing ini?’ 

Lantas, Allah Swt. memperkenankan cacing itu untuk bisa berbicara. Cacing itu berkata, ‘Wahai Nabi Allah, Tuhanku mengilhamkan kepadaku agar pada setiap siang hari aku mengucapkan, “Subhaanallâh walhamdu lillâh wa lâ ilâha illallâh wallâhu Akbar,’ seribu kali. Allah pun mengilhamkan kepadaku agar pada setiap malam aku mengucapkan, “Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad an-nabiy al-ummi wa ‘alâ ’ âlihi wa shahbihi wa sallam,” seribu kali. Lalu, apa yang Anda ucapkan hingga aku dapat mengambil faidah dari Anda?’ 

Nabi Dawud a.s. pun menyesal telah meremehkan cacing. Ia takut, lantas bertobat, dan bertawakal kepada Allah Swt. Saudaraku, sudahkah hari-hari kita diisi dengan banyak bertasbih memuji-Nya dan bershalawat memuliakan Rasul-Nya dibandingkan seekor cacing?

Allah Swt. Berfirman, "Bertasbihlah kepada-Nya, langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun," (QS Al-Isra' [17]: 44).

Para malaikat, alam semesta, gunung-gunung,lautan dan semua yang ada di jagat raya ini bertasbih kepada Allah SWT. Mereka berzikir dengan caranya masing-masing. Maka, tak heran jika para nabi Allah, sahabat dan wali memasukkan zikir sebagai menu makanan mereka sehari-hari. Karena ternyata tak ada amal yang lebih ringan hambatannya dan lebih besar kenikmatannya serta lebih menyenangkan hati daripada kenikmatan berzikir kepada Allah.

Bahkan, gunung-gunung dan gurun-gurun merasa bangga dan senang terhadap orang yang berzikir. Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Sesungguhnya gunung akan memanggil gunung yang lain dengan namanya dan bertanya: 'Apakah pada hari ini telah lewat orang yang berzikir kepada Allah Azza wa Jalla?' Ketika di jawab, 'Ya, ada.' Maka gunung tadi pun bergembira.”

'Aus bin Abdullah menuturkan, "Sungguh rawa-rawa akan saling menyeru satu sama lain: 'Wahai tetanggaku, apakah pada hari ini telah lewat orang yang berzikir kepada Allah?" Sebagian menjawab, "Ya, ada" dan sebagian yang lain menjawab, "Tidak ada."

Rabi'ah Al-Adawiyah pernah berlama-lama memperhatikan kicauan burung ketika bertafakur. Suaranya begitu indah dan menyentuh perasaan. Apa yang sedang dikatakan burung itu? Adakah ia sedang mengucapkan sesuatu tentang keagungan Allah? Adakah ia sedang bermunajat kepada-Nya? 

Maka, ia bertanya di dalam hatinya, "Mengapa saya tidak berzikir kepada Allah dengan nyanyian yang diiringi seruling? Bukankah setiap bait lagu bisa diubah dengan doa dan ungkapan tawadhu’ kepada-Nya? Mengapa tidak menjadikan nyanyian sebagai sarana mengadukan kerinduan kepada Allah?" Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam hati Rabia’h, sampai akhirnya ia membaca dan merenungkan firman Allah dalam surat Al-Isra' ayat 44 tersebut di atas.

Disarikan dari buku Sebening Mata Hati karya Asfa Davy Bya, Hikmah, Mizan.

SETIAP LANGKAHMU ADALAH MENUJU KUBUR

“Wahai orang yang terpenjara di dalam penjara hawa nafsu. Wahai hamba makhluk! Wahai orang yang tidak mengetahui akibat urusannya, orang-orang yang tidak mengetahui tentang makhluk dan Allah, serta tak tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Jika engkau tidak berakal, maka jadilah orang yang berakal dengan mengingat kematian. Karena, mengingatnya merupakan kunci segala kebaikan dan keselamatan.
Jika engkau mengingat mati, maka hal-hal yang tidak berguna akan terputus darimu. Jika ketamakanmu melemah dan cita-citamu berkurang, engkau akan kembali dan menyerahkan urusan-urusanmu seluruhnya kepada Allah Azza wa Jalla.
Wahai anak muda! Tidak ada keberuntungan bagimu hingga engkau mengetahui nikmat-nikmat-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya itu menenggelamkanmu dalam tauhid, kemudian engkau fana dalam tauhid itu dari memandang kepada selain-Nya. Maka, bagaimana Allah akan mencintai orang yang mengeluhkan-Nya, membantah dan melawan-Nya?
Cinta, kerinduan dan kedekatan kepada-Nya itu tidak akan teguh bersama hal ini. Jika cinta itu benar, maka tidak ada rasa sakit ketika takdir itu datang. Jika cinta itu berkuasa, akan hilang penentangan dan tuduhan. Setiap langkahmu adalah menuju kuburan. Engkau sedang melakukan perjalanan ke alam kubur!”
--Ceramah Syekh Abdul Qadir A-Jailani, Jumat pagi di Madrasah, 12 Dzulhijjah 545 H. Dikutip dari kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahmani.


Diambil dari Page https://www.facebook.com/tasawufunderground?fref=ts

HADIS UNTUK TEMAN HARI MU!

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang Mukmin yang bergaul dengan banyak orang dan bersabar dengan ganguan mereka itu lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan gangguan mereka." (H.R. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Diambil dari page #Tasawuf Underground

Tuesday, January 14, 2014

CINTA RASUL MENURUT IBNU ATHA’ILLAH

“Ingatlah, engkau baru akan memperoleh kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah SWT jika engkau benar-benar mengikuti sunnah Nabi SAW. Sebaliknya, engkau justru akan diremehkan dan jauh dari Allah jika engkau tidak mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman, “Katakan (wahai Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allahmencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Mengikuti Nabi SAW terwujud dalam dua hal;secara lahiriah maupun batiniah. Aspek lahiriah berupa pelaksanaan shalat, puasa, haji, zakat, jihad di jalan Allah, dan ibadah-ibadah lainnya. Sedangkan aspek bataniah berupa keyakinan akan adanya pertemuan dengan Allah dalam shalat, disertai kekhusyukan dan perenungan maknanya terhadap bacaan-bacaannya.


Jika engkau sedang melakukan amal ketaatan seperti shalat dan membaca Al-Quran, tetapi pada saat itu engkau tidak memiliki rasa takut, tidak berpikir, dan tidak bisa merenungi, berarti penyakit batin telah menghinggapi dirimu, bisa karena kesombongan, ujub atau sejenisnya.”


Allah SWT berfirman, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang jelas.” (QS Al-‘Araf [7]: 146)


Orang yang seperti itu tak ubahnya seperti orang yang sedang terkena penyakit demam. Baginya, semua makanan di mulutnya terasa pahit. Ia sama sekali tak merasakan kenikmatan makanan—yang mengundang selera dan lezat sekalipun—akibat rasa pahit di mulutnya. Orang seperti inni tak akan bisa merasakan nikmatnya ketaatan kepada Allah SWT.”
--Ibnu Atha’illah dalam kitab Bahjat An-Nufus.


Diambil dari page Tasawuf Underground

GELISAH INGIN BERTEMUGELISAH INGIN BERTEMU

"Janganlah kalian gelisah karena makanan yang akan kalian makan, minuman yang akan kalian minum, pakaian yang akan kalian pakai, dan rumah yang akan kalian huni. Kegelisahan seperti itu adalah hasutan nafsu dan syahwat semata. Kalau begitu, di mana kegelisahan hati yang sebenarnya? Kegelisahan hakiki adalah meminta kepada Allah SWT. Kegelisahan kalian adalah sesuatu yang menggelisahkan kalian. Jadikanlah kegelisahan kalian hanya kepada Allah Azza wa Jalla dan segala sesuatu milik-Nya. Dunia ini mempunyai pengganti yang bernama akhirat. Demikian juga makhluk, kecuali Sang Khalik. Jika kalian terlena dengan sesuatu di dunia ini, akibatnya akan terjadi di akhirat. Dan, kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Berhitunglah mulai hari ini! Usia kalian adalah yang tersisa. Bersiaplah menghadapi akhirat! Bersiaplah menerima kedatangan Malaikat Maut!
--Al-Fath Al-Rabbani, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani


Diambil dari page Tasawuf Underground

DOSA KECIL DAN BESAR


Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus lebih berbahaya dari melakukan sebuah dosa besar. Imam Al-Ghazali menegaskan, "Dosa besar yang berakhir dan tidak berlanjut lebih berpeluang dimaafkan daripada dosa kecil yang dikerjakan terus-menerus. Itu bagaikan tetesan air yang jatuh tanpa henti menimpa batu. Tetesan itu bisa membuat lubang. Sementara, jika semua air dituang sekaligus, tak akan menimbulkan lubang pada batu."
Dosa-dosa kecil itu sangat berdampak besar pada gelapnya hati. Dosa besar jarang dilakukan tiba-tiba tanpa didahului dosa-dosa kecil sebelumnya. Jarang sekali orang langsung berzina tanpa didahului cumbu rayu dan tindakan lainnya. Jarang orang membunuh seketika tanpa didahului benih-benih permusuhan dan pertikaian.
Karenanya, berhati-hatilah terhadap percikan api yang kau anggap kecil. Sebab, sedikit percikan api dapat menghanguskan sebuah kota.
--Disarikan dari Kitab Taj Al-Arus karya Ibnu Atha'illah

Diambil dari page Tasawuf Underground

JEBAKAN ISTIDRAJ

"Yang dikhawatirkan atas dirimu adalah dosa yang dilakukan secara berantai sehingga menjebak dan mengokohkan dirimu di dalamnya. Allah berfirman, 'Kami akan menjebak mereka dari arah yang tidak mereka ketahui.' (QS Al-Qalam 68: 44)."

--Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus

Istidraj atau jebakan Allah kepada pelaku maksiat adalah dengan memberi mereka kesehatan dan kenikmatan yang kemudian mereka pergunakan sebagai sarana untuk semakin banyak melakukan kemaksiatan dan dosa. Nabi SAW. bersabda, "Jika kau melihat Allah memberi dunia kepada hamba yang bermaksiat seperti yang ia inginkan, sesungguhnya itu merupakan istidraj." (HR Ahmad).
Dalam ayat lain Allah menerangkan maksud istidraj dalam bentuk yang lebih jelas, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan, Kami bukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Ketika itulah mereka terdiam putus asa." (QS Al-An'am 6: 44).
Orang beriman selalu khawatir ketika pintu-pintu rezeki terbuka untuknya. Ia khawatir itu merupakan jebakan menuju siksa. Karena itu, ia senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menjalankan ketaatan dan menunaikan hak-hak harta sebagaimana yang diperintahkan-Nya.


Diambil dari Page Tasawuf Underground
:)

KEBAIKAN MENGIKUTI NABI SAW

Bila ingin mendapatkan seluruh kebaikan, berdoalah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar bisa mengikuti Rasul-Mu, baik dalam ucapan maupun tindakan."


Siapa yang memimpikan hal itu, hendaklah ia tidak menzalimi hamba-hamba Allah, baik berkaitan dengan kehormatan maupun nasab mereka. Dengan demikian, ia dapat bergegas menuju Allah. Jika tidak mengikuti jalan itu, ia akan terhalang seperti orang yang dililit banyak utang dan terus dikejar orang yang menagihnya.
Bayangkan jika kau diperlakukan khusus oleh raja dan berada di dekatnya, tetapi kemudian seseorang datang menagih utang kepadamu-meski jumlahnya sedikit-di hadapan raja. Tentu kedatangannya itu akan membuatmu terpojok dan merasa malu meski utangmu tidak seberapa.

Lalu bagaimana jika pada hari kiamat nanti kau datang sementara ratusan ribu orang menuntutmu lantaran kau mengambil hak-hak mereka? Bisa jadi ada orang yang mengejarmu karena uang mereka kau ambil, kehormatannya kau rusak, dan lain-lain. Bagaimana kira-kira keadaanmu?!
--Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus

Diambil dari page Tasawuf Underground
:)

GEJOLAK HATI MELEBIHI AIR YANG MENDIDIH

Ibnu Atha'illah berkata, "Rasulullah SAW. bersabda, 'Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.'" (HR Ahmad dan Al-Hakim). 


Betapa banyak manusia yang kadang-kadang hatinya menyatu dengan Allah, tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak yang menghabiskan malamnya dalam ketaatan kepada Allah, tetapi ketika matahari terbit, ia tak ingat lagi kepada-Nya. Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat, melainkan bagian lensanya saja. Begitu pun keadaan hati. Jadi, bagian hati yang memandang bukanlah bagian lahiriahnya yang berupa gumpalan daging, melainkan unsur lembut yang Allah lekatkan di dalamnya. Unsur itulah yang bisa memandang dan menangkap. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di dada bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani ketakwaan ia juga akan bergerak. Kadang-kadang lintasan nafsu atau syahwat yang lebih dominan dan kadang-kadang lintasan takwa yang lebih dominan. Karena itulah kadang-kadang hati menyadari dan menerima karunia Allah dan kekuasaan-Nya. Kadang-kadang pada saat tertentu lintasan nafsu dapat dikendalikan dan dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, di saat lain lintasan takwa dikalahkan lintasan nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati bagaikan atap rumah. Bila kau menyalakan api dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam. Seperti itu pulalah api syahwat. Kalau api syahwat berkobar dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik memenuhi hati dan menghitamkannya.
--Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus

Diambil dari Page Tasawuf Underground 
:)

MANISNYA KETAATAN

"Jika engkau merasa berat untuk taat dan beribadah serta tidak menemukan kenikmatan dalam hati, sementara engkau merasa ringan bermaksiat dan menemukan kenikmatan di dalamnya, ketahuilah bahwa engkau belum jujur dalam tobatmu. Andai pangkalnya benar, pasti cabangnya juga benar."
--Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-'Arus

Tanda bahwa tobatmu benar dan diterima adalah jika hatimu merasakan nikmatnya ketaatan. Tobat yang jujur dan benar mengandung penyesalan atas maksiat yang dilakukan, rasa malu kepada Allah, serta tekad yang kuat untuk istikamah di jalan yang Allah ridai. Itulah pangkal tobat. Jika pangkalnya benar, tentu ujungnya pun benar. Ujung dari tobat yang benar adalah kenikmatan dalam menetapi ketaatan dan perasaan berat melakukan kemaksiatan. Nabi SAW. bersabda, "Orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah gunung yang siap menimpanya. Sementara orang fasik melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidung yang hanya ia tepis dengan tangan." (HR Al-Bukhari).

Diambil dari page Tasawuf Underground

BAGAIMANA DENGAN CINTAMU PADA ALLAH?

Harits Al-Muhasibi mengatakan, "Cinta itu rasa kecenderunganmu kepada sesuatu secara total, lalu engkau lebih mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu. Kemudian, kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau terbuka. Lalu, pada saatnya, ia juga bisa memberitahu kepadamu tentang keteledoran cinta."
Beberapa sufi lain menyebutkan; Cinta juga laksana api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintai. Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasih itu boleh berbuat apa saja yang dia mau.
Ahmad An-Nuri mengatakan, "Cinta itu membuka tabir dan membuka semua rahasia."
Junaid Al-Baghdadi menyebutkan "Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih."
Rasulullah Saw bersabda, "Hubbuka lisyaiin ya'ma wa yashummu." (Cintamu pada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli) (H.R. Ahmad)

--Risalah Al-Qusyairiyah


Diambil Page Tasawuf Underground

MUTIARA HADIS UNTUK MU

Ibnu Abbas r.a. menuturkan, "Aku pernah berjalan di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari, dan beliau bersabda, "Nak, jagalah agama Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah agama Allah, niscaya (keridhaan) Allah akan selalu berada di hadapanmu. Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan jangan engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (H.R. At-Tirmidzi)

Menurut Imam Ahmad, dalam hadis ini teldapat lafaz perkataan Ibnu Abbas r.a.,"Aku dibonceng oleh Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Wahai anakku! Maukah engkau aku ajarkan kalimat yang akan sangat bermanfaat bagimu?' Kemudian aku menjawab, 'Ya. Aku mau.'

Lafaz hadis selengkapnya yaitu, "Kenalilah Allah di waktu sejahteramu maka Allah akan mengenalmu di waktu engkau susah. Sungguh qalam telah kering (maksudnya takdir telah ditetapkan), andaikan semua makhluk hendak memberikan manfaat (kepadamu) yang tidak dikehendaki Allah, maka niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, dan seandainya mereka ingin memberikan mudharat (bahaya) yang tidak Allah tetapkan maka niscaya mereka juga tidak akan mampu, dan ketahuilah bahwa pada kesabaran atas apa yang tidak engkau sukai itu terdapat kebaikan. Sedangkan pada kesabaran itu terdapat pertolongan. Sesungguhnya pada kesusahan itu terdapat kesenangan dan pada kesulitan itu terdapat kemudahan."


--Bulughul Maram, Abu Hajar Al-Asqalani


Dipetik dari Page Tasawuf Underground 

Sunday, January 5, 2014

Aku Cinta….

Adikku..
Walaupun tidak selalu aku meluah kata
Mungkin hanya sekali
Jika kau ingat
Aku pernah mengatakan
Aku sayang… Aku rindu .. Aku cinta Kalian
Namun kata-kata itu belum menggambarkan cinta yang benar
Pada ku buat mu
Namun dalam doa ku.. AKu sering dan tidak lupa menyebutkanmu..
Aku sayang …
Kerana itulah aku tidak sering lupa mengingatkan mu
Solat di awal Waktu
Jangan pernah meninggalkan membaca al-Quran walaupun sekali
Solat berjemaah itu penting
Mungkin kau belum mengerti adikku…
Namun kelak aku akan faham,
Lalu kau akan mengiyakan benarnya kata-kata ku ini…
Walau terkadang aku menangis kerana mu
Menangis kerna sayang kau kan terluka
dan tersakiti oleh penyakit dunia
kerna dalam aku bimbangkan diri kalian
aku juga bimbangkan diri ku juga
kerana itulah
lantas aku ingin mengajak kalian
supaya ayuh ke mari dalam genggaman tangan ku
agar kau bisa menjadi Imam bagi ummah kelak
Bukan aku yang membuat kalian
Tetapi aku mahu tunjukkan sesuatu yang istimewa
Buat kalian….
Kerna ku sayang…
Terlalu sayang..
Jika bila aku sudah tiada lagi
Inagtlah selamanya pesan kakakmu ini…
“Jagalah solat mu”
Wahai adik-adik ku yang ku sayangi

Kerana ALLAH SWT. 



Semoga menjadi Khalifah yang disukai ALLAH SWT.